berita Terkini
  • Sabtu, 1 Agustus 2015, 10:22 MTSN MUARA TEMBESI LAKUKAN PEMILIHAN PESERTA LOMBA Batang Hari (MTsN Muara Tembesi) Dalam rangka mengembangkan bakat dan minat siswa MTsN Muara Tembesi denganadanya kegiatan lomba paada peringatan hari PRAMUKA ke-54 MTsN MuaraTembesi saat ini tengah mempersiapkan peserta untuk mengikuti berbagai macam lomba yang akan diikuti. Adapun lomba yang akan diikuti padakegiatan tersebut yaitu ada 3 macam yakni pada tanggal 7 Agustus 2015lomba cerdas cermat Pramuka Pa dan Pi, tanggal 11 Agustus 2015 lomba senamPramuka Pa dan Pi, dan pada tanggal 1...
  • Sabtu, 1 Agustus 2015, 10:20 30 JULI 2015 SISWA MTSN MUARA TEMBESI MULAI AKTIF BELAJAR Batang Hari (MTsN Muara Tembesi) Hari ini tepatnya 30 Juli 2015 siswa MTsN Muara Tembesi sudah mulai aktif belajar setelah libur semester genap TP 2014-2015. Diungkapkan oleh Kepala MTsN Muara Tembesi Bapak Erman, S.Pd.I siswa MTsN Muara Tembesi hari ini tepatnya mulai tanggal 30 Juli 2015 sudah aktif belajar, sehingga tidak ada alasan bagi siswa untuk tidak masuk belajar. Sebab waktu libur sudah cukup panjang jadi sudah cukup untuk refresing, ungkapnya. (IM)...
Link Banner
Renungan
  • SHALAT DHUHA Waktu Shalat dhuha Terjadi perbedaan dikalangan fuqaha tentang batasan shalat dhuha secara umum. Imam Nawawi didalam "ar Raudhah" mengatakan, "Para sahabat kami (madzhab Syafi'i) berpendapat, waktu shalat dhuha berawal dari terbit matahari dan dianjurkan agar mengakhirkannya hingga ia meninggi." Hal itu ditunjukkan oleh riwayat Imam Ahmad dari Abu Murrah ath Thoifi berkata bahwa Rasulullahshallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Sesungguhnya Allah Ta'ala berfirman, 'Wahai anak Adam, janganlah kalian lemah dari melaksanakan empat rakaat dari permulaan siangmu yang akan mencukupkanmu di akhir siangnya." Namun al Adzra'i berpendapat apa yang dinukil itu dari para sahabatnya (madzhab Syafi'i) itu terdapat catatan, yang terkenal dari pendapat pertama mereka "yaitu pendapat jumhur" (al Mausu'ah al Fiqhiyah juz II hal 9730) Dengan demikian waktu shalat dhuha dimulai kira-kira sejak maahari mulai naik kira-kira sepenggalah hingga sedikit sebelum masuknya waktu zhuhur atau sekitar 15 menit setelah waktu syuruq hingga 15 menit sebelum masuk waktu zhuhur. Jumlah Rakaat Shalat Dhuha Tidak ada perbedaan dikalangan fuqaha yang mengatakan sunnahnya shalat dhuha berpendapat bahwa paling sedikit rakaat shalat dhuha adalah dua rakaat. Diriwayatkan dari Abu Dzarr bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Setiap pagi dari persendian masing-masing kalian ada sedekahnya, setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, dan setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir sedekah, setiap amar ma’ruf nahi munkar sedekah, dan semuanya itu tercukupi dengan dua rakaat dhuha." Namun terjadi perbedaan dikalangan mereka tentang maksimal rakaatnya : Para ulama Maliki dan Hambali berpendapat bahwa maksimal rakaat shalat dhuha adalah delapan rakaat berdasarkan riwayat Ummu Hani' bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah memasuki rumahnya pada saat penaklukan Makkah, kemudian Beliau shallallahu 'alaihi wasallam shalat delapan raka'at" seraya menjelaskan, "Aku belum pernah sekalipun melihat Beliau melaksanakan shalat yang lebih ringan dari pada saat itu, namun Beliau tetap menyempurnakan ruku' dan sujudnya." Sedangkan para ulama Hanafi dan Syafi'i —pendapat yang marjuh— serta Ahmad —dalam satu riwayat darinya— bahwa maksimal dari shalat dhuhah adalah dua belas rakaat, berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh at Tirmidzi dan an Nasa'i dengan sanadnya yang didalamnya terdapat kelemahan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Barangsiapa yang melaksanakan shalat dhuha sebanyak dua belas rakaat maka Allah (akan) membangunkan baginya istana dari emas di surga." Ibnu Abidin menukil dari "Syarh al Maniyah" dan menegaskan bahwa hadits lemah bisa diamalkan didalam perkara-perkara keutamaan. Al Hashkafi dari kalangan Hanafi menukil dari 'adz Dzakha'ir al Asyraqiyah" menyebutkan bahwa yang moderat adalah delapan rakaat dan inilah yang paling utama, berdasarkan perbuatan dan perkataan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sedangkan tentang maksimalnya hanyalah melalui perkataaan beliaushallallahu 'alaihi wasallam saja. Adapun dikalangan para ulama Syafi'i telah terjadi perbedaan didalam berbagai ungkapan mereka tentang maksimal rakaat shalat dhuha. Imam Nawawi didalam "al Minhaj" menyebutkan bahwa maksimalnya adalah dua belas rakaat sementara dia menyalahinya didalam kitab "Syarh al Muhadzab", dia menyebutkan dari kebanyakan ulama bahwa maksimal adalah delapan rakaat. Beliau menyebutkan juga didalam "Raudhah ath Thalibin" bahwa yang paling utama adalah delapan rakaat sedangkan maksimalnya adalah dua belas rakaat dengan mengucapkan salam di setiap dua rakaat." (al Mausu'ah al Fiqhiyah juz II hal 9730 – 9731) Wallahu A'lam
  • Galeri Video
    FAQ
    Back to Top Halaman ini diproses dalam waktu : 2.582441 detik
    Diakses dari alamat : 10.1.7.64
    Jumlah pengunjung: 3916621
    Lihat versi mobile
    Best Viewed with Mozilla Firefox 1280X768
    © Copyright 2013 Pusat Informasi dan Humas Kementerian Agama. All Rights Reserved.